Showing posts with label crisis. Show all posts
Showing posts with label crisis. Show all posts

Friday, October 10, 2008

Tempat Penukaran Uang Dibanjiri Pengunjung

Metrotvnews.com, Jakarta: Transaksi di sejumlah tempat penukaran valuta asing di Jakarta meningkat menyusul krisis ekonomi global yang terjadi saat ini. Angkanya bisa mencapai 100 persen.

Di tempat penukaran valuta asing PT Ayu Mas Agung, Jakarta Pusat, misalnya. Patauan Metro TV, Jumat (10/10), lonjakan pengunjung di tempat itu bisa mencapai 100 persen dibandingkan kondisi normal.

Sebelum krisis ekonomi di Amerika Serikat, yang datang untuk menukarkan uang ke tempat itu cuma 50 orang per hari. Sekarang bisa mencapai 100 orang per hari.

Pengunjung umumnya menukarkan dolar AS. Pagi tadi, nilai beli dolar AS Rp 9.725. Sementara nilai jual Rp 9.755 per US$. Tapi setengah jam kemudian nilai tukar berfluktuasi.(***)

Panic strangles Asia stocks; yen firm

HONG KONG (Reuters) - Asian stocks plunged on Friday, with Japan's Nikkei down more than 10 percent, while the yen and U.S. Treasury debt prices rose, as panic set in after global efforts so far failed to unlock credit markets.

A synchronized cut in borrowing costs by central banks around the world this week was seen as too little, too late, and investors doubted a meeting of the Group of Seven rich nations later on Friday could achieve much, with fears growing that the global economy is headed toward recession.

U.S. government debt and the yen have become refuges from the worsening financial crisis that overnight knocked the U.S. S&P 500 stocks index down 7.6 percent to a 5-year low. But cash was ultimately king, with even Japanese government bonds being liquidated for funding.

Fears of a sharp slowdown in demand for raw materials from heavy consumers like China and the United States dragged oil prices down to a 12-month low below $83 a barrel.

"It's impossible to predict the bottom, and technical analysis is meaningless as panic and fear overwhelm the markets," said Jang Huh, managing director at Prudential Asset Management in Seoul.

The Nikkei share average was down 10.1 percent, bringing the week's losses to more than 20 percent.

Unlisted Yamato Life Insurance Co filed for bankruptcy protection because of market turmoil, shocking investors who had thought Asia's financial sector, especially Japan's, was relatively stable compared with Europe and the United States.

The MSCI index of Asia-Pacific stocks excluding Japan was down 7.7 percent to its lowest since January 2005, and has fallen 21 percent this week alone. The all-country world stocks index fell to the lowest since November 2003.

Hong Kong's Hang Seng index dropped 7 percent to a near three-year low. The market value of companies listed on the index has lost almost half its value since the year began.

Singapore's Straits Times index fell more than 6.6 percent, and data confirmed one of Asia's richest economies was in a recession.

The Chicago Board Options Exchange Volatility index (VIX), seen as a gauge of investor fear, hit an all-time high of 64.92, as investors scrambled to buy increasingly expensive protection against erratic price action.

With global equity markets declining with brutal swiftness, investors have rushed to U.S. Treasury debt despite weakness in recent days on expectations for a glut of new issuance.

The 10-year note rose 6/32 in price, taking its yield to 3.76 percent from 3.78 percent. Rates on one-month T-bills fell to just 0.046 percent, from 0.080 on Thursday and 1.55 percent as recently as September 11, as the very short end of the market continued to act as a source of funding with other avenues all but shut down.

WHAT MORE CAN BE DONE?

Credit markets were nearly broken. The cost of protection against defaults in Asia's sovereign and corporate debt soared to record highs, traders said.

The iTRAXX Asia ex-Japan high-yield index, a key measure of risk aversion for the region's "junk"-rated credit, soared about 90 basis points to a record 890/940 bps, a Singapore-based fund manager said. But traders warned of little activity in the credit markets, which tends to magnify price differences.

Extreme market volatility stoked talk that the major central banks would have to reduce interest rates again, just days after a concerted round of cuts led by the Federal Reserve and European Central Bank. There were also reports the U.S. Treasury was under intense pressure to inject funds directly into commercial banks.

"It highlights the enormity of the issue and the problem faced by the G7," said Adam Carr, a senior economist at broker ICAP in Sydney. "Given the muted response in markets, certainly I think more rate cuts are to come, as ineffective as they are proving. Lets hope the G7 propose a good dose of fiscal medicine to the real economy as well."

Whether or not global policymakers have anything more planned, time was running thin.

The spread of 3-month London interbank offered rates over the 3-month U.S. Treasury bill yield widened to 426 bps, increasing more than 300 bps in the last month, with cash being hoarded and practically no lending between banks.

Japanese government bonds plunged as much as 1.99 points to 136.47, with investors in a frantic rush to secure cash with domestic money markets succumbing to the freeze around the world.

The euro slid to a three-year low of 132.80 yen before trimming losses to 133.88 yen. The U.S. dollar hit a six-month low of 97.91 yen before clawing back to 98.97 yen.

U.S. crude oil futures fell 5.2 percent to a 12-month low of $82.10 a barrel on concerns the growing financial crisis would sap fuel demand from countries like China.

The slowdown in the country's property and manufacturing sectors means it will take time to work through its metals and other raw materials stockpiles.

"With a steady stream of negative news dampening sentiment across the commodities complex, market players are hoping for supportive government measures to arrest the decline in commodity and equity prices," said Jing Ulrich, managing director and chairman of China equities with JPMorgan in Hong Kong.

Spot gold rose $2.50 to $914 an ounce as investors search for assets that might be safe havens from the sharp fall on equity markets.

Saham Dua Raksasa Otomotif AS Jatuh

Metrotvnews.com, New York: Pasar otomotif Amerika Serikat mulai terkena imbas krisis ekonomi global. Saham dua raksasa otomotif, seperti General Motor dan Ford Motor, anjlok pada sesi perdagangan di New York, Kamis (9/10).

Saham mereka melorot setelah Standard and Poor`s Rating Service atau Lembaga Rating AS memutuskan bakal mempertimbangkan kembali nilai rating kedua perusahaan itu. Hal ini guna mengantisipasi kemungkinan turunnya harga saham.

Adapun saham General Motor turun US$ 2,26 atau 33 persen di posisi US$ 4,65. Hingga akhirnya saham tersebut rada naik di posisi US$ 4,76.

Penurunan ini turut menyumbang kejatuhan saham industri mobil di Dow Jones. Rata-rata penurunannya lebih dari 600 poin. Ini merupakan level terendah dalam lima tahun belakangan.

Kamis kemarin juga merupakan keenam harinya kejatuhan General Motor. September silam saham mereka juga sempat turun 50 persen dari penutupan di posisi US$ 9,45.

Analisa Lembaga Riset Harga Sekuritas Universitas Chicago menyatakan Kamis kemarin adalah titik terendah dari harga saham industri automotif Detroit. Terakhir kejatuhan terparah terjadi pada 1950.(**)

Presiden: Jangan Katakan Indonesia Sudah Alami Krisis Ekonomi

TANGERANG--MI: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, krisis pasar modal dan keuangan yang terjadi saat ini belum dapat dikatakan sebagai krisis ekonomi.

Presiden pada peresmian Masjid Bani Umar di Graha Bintaro Raya, Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten, Jumat, mengingatkan agar jangan terlalu cepat mengatakan Indonesia sudah mengalami krisis ekonomi.

Sebelum mengakhiri sambutan peresmian masjid yang diprakarsai Keluarga Mantan Wapres Umar Wirahadikusumah itu, Presiden sempat menyampaikan pernyataan tentang kondisi perekonomian Indonesia.

"Sebelum akhiri sambutan, saya ingin sampaikan satu hal. Dewasa ini, dunia sedang alami krisis pasar modal, krisis keuangan, belum dapat dikatakan krisis ekonomi, apalagi untuk negara kita," kata Presiden.

Seperti disampaikan Presiden sejak Senin, 6 Oktober 2008, Presiden kembali meminta agar pelaku pasar tetap tenang, rasional, berpikir jernih sambil berusaha mencari jalan keluar agar Indonesia tidak terganggu dampak krisis keuangan global.

Presiden juga mengingatkan, kondisi pasar modal hanya mempengaruhi, tetapi tidak menggambarkan seluruh situasi perekonomian Indonesia.

Presiden meminta dukungan dari semua pihak agar tenang dan berpikir jernih bersama pemerintah, Bank Indonesia (BI) dan dunia usaha untuk memastikan bahwa pengaruh krisis global terhadap perekonomian Indonesia dapat diminimalkan.

Selaku Presiden, dia berjanji untuk tetap memprioritaskan program-program perlindungan bagi rakyat dan memproteksi ekonomi rakyat.

"Kita punya anggaran yang cukup dari kementerian dan lembaga negara untuk menggerakkan pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia yang juga menciptakan lapangan pekerjaan," kata Presiden.

Presiden menjelaskan, program untuk melindungi ekonomi rakyat pada 2008 dianggarkan Rp290 triliun. Dari jumlah itu, sudah dikucurkan Rp173 triliun selama periode Januari sampai Oktober 2008.

"Oktober ini sudah saya instruksikan dikeluarkan Rp25,9 miliar. Itu likuiditas yang cukup besar. Sisanya akan terus dialirkan agar pembangunan terus berlangsung," kata Presiden.

Presiden menambahkan, sektor riil di negara mana pun pasti terpengaruh oleh krisis keuangan global. Namun, pemerintah dan dunia usaha tetap berusaha agar sektor riil di Indonesia tetap bergerak. (Ant/OL-01)

Rupiah Melemah Warga Ramai-Ramai Jual Emas

BANDUNG--MI: Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika selama beberapa hari ini dimanfaatkan oleh warga Kota Bandung dengan menyerbu toko emas untuk menjual perhiasan emasnya.

Dalam sehari, ada sekitar 20 hingg 25 orang yang menjual emas, kata salah satu pemilik toko emas di kawasan Jalan Kosambi Bandung, Buana Tanu Jaya, Jumat (10/10).

"Kalau sekarang kecenderunganya lebih banyak yang jual emas daripada yang beli," katanya.

Menurut Buana Tanu Jaya, alasan orang lebih banyak yang menjual emas daripada membeli disebabkan posisi nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar serta krisis keuangan di Amerika Serikat .

Harga emas pun saat ini mengalami kenaikan sekitar tujuh hingga 10%. Harga emas di pasaran saat ini sekitar Rp220 ribu per gram.

Ia mengatakan, jumlah warga yang menginvestasikan uangnya dalam bentuk emas logam mulia batangan, juga mengalami peningkatan. Biasanya dalam sehari ada orang yang berminat membeli emas logam mulia jumlahnya hanya satu atau dua orang, namun dalam sepekan ini, jumlahnya
meningkat menjadi di atas lima orang per harinya.

Salah seorang pengunjung yang hendak menjual emas, Yati, mengatakan, alasan dirinya menjual kalung emasnya saat ini karena ia bisa mendapat keuntungan lebih dari penjualan emas tersebut. Saat ia membeli perhiasan itu, harag emas saat itu Rp185 ribu per gram. Akan tetapi, saat ia menjual, harganya bertambah menjadi Rp215 ribu. (Ant/OL-01)

Rupiah menukik

Jum'at, 10 Oktober 2008 11:04 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat makin payah. Rupiah pada, Jumat (10/10) siang, diperdagangkan Rp 9.750 per US$. Jumlah ini melorot 160 poin dibanding transaksi pagi tadi.

Celakanya nilai tukar rupiah akan terus menukik seiring anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG). Sejauh ini upaya Bank Indonesia untuk menjaga rupiah belum ada pengaruhnya.(***)

Indeks Nikkei Terus Melorot

Jum'at, 10 Oktober 2008 11:02 WIB

Metrotvnews.com, Tokyo: Bursa saham Asia kembali ambruk bersamaan dengan jatuhnya Nikkei Jepang lebih dari 10 persen, Jumat (10/10) pagi. Bahkan posisi Nikkei sempat kritis karena anjlok 11,4 persen.

Hari ini, indeks Nikkei rata rata turun 10,6 persen. Kondisi ini dipicu oleh aksi lepas saham Osaka Stock Exchange yang akhirnya menunda sementara perdagangan. Otoritas di Jepang menghitung kerugian pada pekan ini lebih dari 20 persen.

Pasar saham di Korea Selatan juga kembang kempis. Saham Korea Composite Stock Price (Kopsi) jatuh 7,1 persen atau sekitar 92,05 poin setelah perdagangan dibuka selama satu jam. Bahkan pagi tadi Kospi sempat jatuh 9 persen.(***)

Penutupan BEI Dinilai Tepat

Jum'at, 10 Oktober 2008 09:40 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Sebagian besar pelaku pasar saham bisa memahami keputusan pemerintah memperpanjang masa suspend Bursa Efek Indonesia. Perhitungan mereka, kalau BEI dipaksakan dibuka, pasar bursa di Indonesia bisa hancur.

"Saya bisa memahami," kata analisis pasar, David Ferdinandus kepada Metro TV, Jumat (10/10) sekitar pukul 09.30 WIB. Apalagi, David menilai, suspend lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Revorlt Wenas, analisis pasar lainnya, sependapat. Menurut dia, BEI memang harus ditutup dari pada pasar dicaplok habis para spekulan. Apalagi spekulan biasanya memiliki cadangan dana lebih besar dari pada yang diperkiraan.

Ketua Asosiasi Emiten Indonesia, Erlangga Hartanto pun mengatakan, BEI memang tak bisa dipaksakan dibuka hari ini. Bila dipaksakan pasar saham Indonesia bakal ambruk.

Namun Erlangga mewanti-wanti suspend tak boleh berlangsung sampai Senin pekan depan. "Apapun BEI harus dibuka Senin depan. Para analis pasti sudah mengevaluasi keadaan," ujar Erlangga. Dia juga mengingatkan agar pelaku pasar tetap tenang menyikapi persoalan ini.(***)